Home / Daerah / Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak Yang Masih Belum Tuntas

Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak Yang Masih Belum Tuntas

RAJAWALI CITRA NEWS. Com, JAKARTA – Di awal pada Bulan Januari 2018 sudah terjadi puluhan Orang Jadi Korban Kekerasan Seksual yang terjadi sebagian menimpa anak anak di bawah umur.

Memurut data dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) kebanyakan korban dari anak laki laki. Dan mencatat setidaknya sudah 98 orang menjadi korban kekerasan seksual.

Korban yang terjadi ada 88 berusia anak di bawah umur. Untuk jumlah tersebut masih mungkin bertambah jika melihat kemungkinan adanya tindakan kekerasan seksual yang tidak dilaporkan. Karna korban biasanya takut melapor dan merasa malu. Oleh karna itulah LPSK melakukan tindakan jemput bola kepada korban. Kekerasaan secara fisik masih di derita, terkadang LPSK mendapat kesulitan mencari alat buktinya dari korban.

Menurut Ketua LPSK,  Abdul Haris Sendawai ” Kasus seksual sering terjadi berbagai jenis motif seperti ekonomi, Balas dendam maupun karna ancaman untuk korban. Masalah ini terjadi pada pengajar Agama guru ngaji, pimpinan Yayasan dan pegawai rumah sakit. Bahkan lebih menjadi korban kekerasan seksual pada setiap harinya”. kata Abdul Haris Semendawai., Kamis,  ( 01 / 01 /2018 )

Inisiatif dari LPSK sudah memproses penanganan kepada 73 orang anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Para korban tersebut saat ini sedang dalam tahap proses pengajuan permohonan perlindungan.

“Untuk syarat yang diberikannya perlindungan. Dari jumlah 73 korban. lebih dari setengahnya, yakni 43 orang, merupakan anak korban pencabulan Babe di Tangerang. Khusus untuk kasus Babe Tangerang, LPSK akan bersinergi dengan instansi Iain agar pemberian iayanan bisa optimal sesuai tugas fungsi masing-masing “, ujar Semendawai.

Dia katakan lagi, “Dari hasil temuan tim LPSK yang turun ke lapangan menemui para korban kekerasan seksual, diketahui bahwa rata-rata para korban rasa takut, trauma, hingga tidak mendapat dukungan dari lingkungan sekitar baik keiuarga maupun pihak sekoiah. Bahkan pada beberapa kasus ada upaya dari keluarga maupun sekolah untuk menutup-nutupi kasus yang menimpa anak atau siswa mereka. Hal ini tentunya selain menyebabkan tindak pidana sulit terungkap, juga akan semakin memojokkan posisi korban”, ungkap Semendawai.

Selain itu. adanya tuntutan pembuktian seringkali membuat suatu tindak pidana kekerasan seksual sulit diungkap, hal ini dikarenakan minimnya saksi yang mengetahui. Apalagi jika kekerasan seksual yang tidak berbentuk penetrasi dimana bukti-bukti akan semakin sulit. Meski begitu LPSK yakin dengan itikad baik dan inovasi dari penyidik bukan berarti tindak pidana kekerasan seksual yang buktinya minim akan sulit terungkap.

“Misalnya dengan meiakukan visum psikiatri yang tidak hanya berpatokan pada bukti fisik yang mungkin saja tidak ada, namun sebenarnya tindak pidana seksual sudah terjadi“, harap Semendawai.

LPSK berharap adanya itikad baik penyidik dan dukungan dari masyarakat, sehingga selain bisa membantu mengungkap tindak pidana, juga bisa memberikan dukungan kepada korban agar bisa meialui trauma pasca menjadi korban.

“Hal seperti ini penting agar korban tidak menjadi korban untuk kesekian kalinya baik dari pandangan masyarakat maupun menjadi korban dari proses peradilan yang dijaianinya”, papar Semendawai dengan tegas.

 

Penulis  : Jojoe Toar.

 

Editor. : Darius. Manurung.

About Rajawali Citra News

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Ketiga Anak Ratu Dangdut Elvi Sukaesih Di Ciduk Saat Sedang Pesta Narkoba

RAJAWALI CITRA NEWS. Com, JAKARTA – Heboh di dunia infotaimen, karna hari ...